Jumat, 12 Desember 2008

MEMAHAMI KRISIS FINANCIAL DAN GAGALNYA EKONOMI PASAR BEBAS


Oleh: Randy Syahrizal*)

Dalam ekonomi kapitalisme, seperti yang dijelaskan oleh Marx dalam capital, selalu berhadapan dengan krisis-krisis umum, yang dapat dijelaskan oleh penyebab utama (mono-causal); (1). Ketidakseimbangan antara produksi kapitalis dengan kebutuhan real masyarakat, yang selalu dijelaskan dengan anarkisme produksi. (2). Ketidakseimbangan antara keluaran (kapasitas produksi) dengan kemampuan konsumsi massal—yang parameternya adalah upah (daya beli) masyarakat. (3). Akumulasi berlebihan, yakni tidak cukupnya produksi nilai lebih, dibandingkan dengan jumlah capital yang diakumulasikan. Ketiga factor ini, dalam sirkuit produksi kapitalis, selalu membimbing pada krisis-krisis umum, yang kedalaman dan tingkat kerusakannya berakumulasi, hingga pada keruntuhannya.

Sejak tahun 1970-an, persisnya sejak periode keemasan kapitalisme berakhir, sistem kapitalis mendapati dirinya pada situasi stagflasi ekonomi, yaitu kombinasi antara pertumbuhan yang rendah dan inflasi. Di negara-negara kapitalis maju (AS dan Inggris) terjadi krisis kelebihan produksi (over production), yang selain didorong oleh kenaikan harga minyak dunia, juga disebabkan oleh pertumbuhan kapasitas produksi Jepang dan Jerman, serta proses industrialisasi yang berjalan di Korea Selatan, Brazil, Taiwan, dan Argentina.

Seperti yang dijelaskan oleh Keynes, bahwa krisis kapitalisme modern, yang mengacu pada great depression, masih mungkin untuk terus terjadi, sehingga memerlukan pencegahan berupa; full employment, pemanfaatan seluruh kapasitas produksi, dan pertumbuhan. Tapi dalam beberapa tahun ini menunjukkan, kapitalisme mengatasi stagflasi dengan pemotongan pajak, deregulasi, privatisasi, dan pasar tenaga kerja yang fleksibel—apa yang disebut neoliberalisme dan turunannya Structural Adjusment Program (SAP) di Negara berkembang.

Pertumbuhan ekonomi, yang menjadi mimpi ekonom-ekonom pro pasar bebas (Neoliberalisme) seperti Milton Friedman dkk, justru terus menurun dari tahun ketahun. Tahun 1970-an lebih lambat ketimbang 1960-an, tahun 1980an lebih lambat ketimbang 1970-an, 1990-an lebih lambat dari tahun 1980-an, demikian pula dengan tahun 2000-an. Kemunduran ini terus diusahakan untuk diantisipasi, salah satunya dengan mencoba mendorong permintaan, tapi bukan dengan menaikkan upah dan investasi ke public, melainkan menaikkan anggaran militer, yang juga dikembankan sebagai strategi imperium menguasai sumber daya alam dunia, terutama perang irak dan Afghanistan.

Makna politik dan Ideologis Krisis Finansial

Jangan panik! Demikian teriakan pemimpin bank sentral dan pemimpin negara kapitalis di seluruh dunia. Yang menarik, sekaligus mengundang kontroversi pihak kiri maupun kanan, adalah intervensi lebih jauh dari negara---sesuatu yang diharamkan oleh penganjur neoliberal---dan kemungkinan restrukturisasi baru system kapitalisme global untuk tata-dunia baru kapitalisme.

Pemerintah AS telah meluncurkan dana talangan sebesar 700 milyar USD. Pemerintah AS juga telah meluncurkan paket kebijakan AIG, perusahaan financial terbesar di dunia, dan membiarkan lehman brother mati. Di eropa, pemerintah sepakat untuk mengambil alih sejumlah Bank bermasalah dan menerapkan aturan baru dalam melakukan investasi.
Hantu “sosialisme” kini mengetuk pintu wall-street. Sebuah fenomena menarik terjadi di majalah bergengsi “the economics”, yang katanya dipersembahkan kepada marx dan sosialisme, yaitu sebuah karton yang menggambarkan presiden Sarkozy, presiden Perancis, sedang membaca “das capital” didepan gedung perjudian wall-street, New York. Lebih jauh lagi, presiden Sarkozy mengatakan bahwa “ide pasar adalah selalu benar adalah ide gila”.

Di AS, krisis financial telah memberikan energy baru kepada perubahan politik, yang sayangnya ditangkap oleh Obama dan Demokrat, bukan oleh kaum sosialis dan pekerja. Krisis financial benar-benar telah mendorong masyarakat pada ketidakpuasan terhadap skema kebijakan ekonomi partai berkuasa, partai republik, dan memberikan pilihan kritis kepada capres yang dianggap dapat menguasai persoalan ekonomi dan menuntaskan krisis. Sebuah aliansi politik dirancang oleh demokrat dan kaum tengah yang berdiri di belakang Obama, untuk mendominasi legislative dan eksekutif, sebagai jalan memudahkan penyelesaian politik terhadap krisis di tahun depan.

Di jerman, yang selama puluhan tahun dijaga oleh kebijakan sosial demokrasi (regulasi kapitalisme untuk melindungi kepentingan buruh, program social seperti pendidikan, dana pension, kesehatan,dll), akhirnya mengalami krisis setelah beberapa tahun terakhir cenderung menerapkan politik neoliberal. Bahkan dua partai utama yang berkuasa, yakni Kristen demokrat dan sosial demokrat, sudah mengalami krisis akibat kecenderungan neoliberalisme. Situasi ini mendorong hasil pemilihan umum bergeser kepada partai kiri yang lebih tegas menawarkan politik anti-neoliberal, yaitu Die Linke.

Pemerintahan kapitalis dimanapun, termasuk pendukung fanatiknya dimana saja, tentu tak mau membiarkan system ini terkapar begitu saja, tanpa usaha merestrukturisasi diri. Presiden Sarkozy dari Perancis, bersama dengan Jerman, berada di garda depan dalam seruannya untuk menghidupkan kembali bretton woods, yang sudah dilikuidasi sejak tahun 1971. Proposal Perancis dan sekutu eropanya, yang kemudian diloloskan dalam pertemuan pemimpin Asia dan Eropa (ASEM) di Beijing (22/10/08), telah memberikan sinyalemen terhadap kembalinya bretton woods jilid II tersebut. Tentu AS kesulitan menolak proposal ini, ditambah dengan kuatnya dukungan banyak pemimpin dunia, termasuk PM inggris, Gordon Brown, yang selalu menjadi sekutu AS.

Neoliberalisme tak Sanggup Atasi Krisis

Beberapa langkah meredam krisis, seperti yang sedang didemonstrasikan saat ini (nasionalisasi wall-street, dana bailout sebesar 700 milyar USD, dll) lebih jauh tak akan sanggup menghentikan kerusakan lebih parah dari krisis. Pusat krisis adalah sektor keuangan, tapi sektor produksi sudah merasakan dampaknya, dan akan berlansung lebih cepat ketimbang yang dipikirkan. Tiga besar produksi otomotif AS, yaitu General Motor (GM), Ford, dan Chrysler, mengalami kerugian besar. Mereka sedang memperjuangkan dana talangan untuk sektor Industri, dan jika itu gagal, maka pilihan mereka berikutnya adalah melakukan merger. Output dari produksi AS terus menurun, untuk tahun ini saja telah menyebabkan 750 ribu orang kehilangan pekerjaan, dan 159 ribu untuk bulan September saja.

Beberapa alasan kenapa serangkaian krisis tak sanggup menyelesaikan masalah;
Pertama, krisis financial tidak akan merestrart pertumbuhan ekonomi kapitalis. Artinya, stagflasi yang menjadi akar dari krisis ini, akan semakin memperparah kemunduran ekonomi kapitalis.Kedua, krisis telah meloncati lingkup krisis financial, dan telah meronrong pada krisis komoditas dan produksi pertanian, kejatuhan manufaktur, dan kejatuhan laba (keuntungan). Ketiga, masalah serius bagi ekonomi AS, dan menjadi ancaman bagi ekonomi dalam jangka waktu yang cukup panjang, adalah peningkatan utang. Hutang rumah tangga meningkat dari 50 persen dari PDB pada tahun 1980 menjadi 71 persen pada 2000, dan menjadi 100 persen pada tahun 2007. Pinjaman siswa adalah dua milyar dollar dalam tahun 1996-7, tapi meningkat $17 milyar di tahun 2006-7, menurut Badan Pendidikan. Pasar tenaga kerja kesulitan melunasi pinjaman yang jumlahnya telah melebihi rata-rata $20,000. Utang sektor keuangan adalah 21 persen dari PDB pada tahun 1980, namun telah meningkat menjadi 83 persen untuk tahun 2000, dan 116 persen dari PDB tahun 2007. Pemerintah membayar utang untuk pemotongan pajak orang kaya dan perang di timur tengah. Total Amerika hutang (hutang rumah tangga, bisnis, dan pemerintah) telah meningkat dua kali lipat sebagai proporsi dari PDB sejak 1980 dan 350 persen dari PDB sekarang. bahkan sebelum mengambil terbaru dramatis pada hutang baru oleh pemerintah. Hal ini adalah masalah struktural, karena perekonomian tidak dapat tumbuh dengan utang yang terlampau tinggi. Keempat, kejatuhan daya beli masyarakat, yang sekarang ini mencapai 40-50%, terutama lapisan sosial dari pekerja, kulit hitam, dan etnis lainnya, yang selama ini terdiskriminasi oleh kebijakan ekonomi penguasa amerika.

DUNIA SUDAH BERGANTI RUPA
Begitulah adanya, dunia sedang berganti rupa. Para pemimpin-pemimpin dunia khususnya Amerika Latin (Fidel Castro, Hugo Chavez dkk) yang berpaham kiri (anti neoliberalisme) sepertinya tak sabar melihat kehancuran sistem ekonomi kapitalisme. Mereka percaya seperti apa yang diramalkan Marx, bahwa sebagaimanapun hebatnya kapitalisme, tetap juga tak akan mampu mengatasi kontradiksi (baca: krisis)_ didalam kapitalisme itu sendiri. Jika ini benar, maka tak lama lagi dunia akan dihebohkan oleh kebangkrutan idieologi kapitalisme.

Agenda pasar bebas, seperti yang diagung-agungkan ekonom-ekonom Wall Street selama bertahun-tahun tidak juga mampu mengatasi kemiskinan, dan malah sebaliknya, semakin memiskinkan lapisan masyarakat klas bawah. Negara-negara dunia ketiga lambat laun memahami dan menyadari betapa selama ini mereka hanya menjadi sapi perahan dari Negara-negara kapitalis maju. Bagaimanakah kejadian selanjutnya..? Apakah Negara-negara dunia ketiga akan bersatu dalam membangun dunia yang bersolidaritas dan meraih kesejahteraan bersama, ataukah krisis financial hari ini dapat diatasi dengan konsolidasi Bretton Woods jilid II..?

*) Penulis adalah Sekretaris Wilayah - Serikat Tani Nasional (STN) Sumatera Utara, Wakil Ketua DPC – PBR Kota Pematangsiantar serta Pemerhati Ekonomi dan Politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar